Manusia

-Part 1-

Barangkali memang benar, pikiran sendiri itu dapat mematikan diri sendiri.
Barangkali memang benar, kita harus pintar memilah dan memilih tentang apa yang akan kita pikirkan.

Tapi, kalian tau kan pikiran itu tak dapat diperjarakan?

Barangkali memang benar, manusia pada kodratnya selalu menginginkan sesuatu yang tidak dapat dimilikinya.
Manusia sudah tau mana yang benar tapi masih saja melakukan yang salah.
Manusia memang memiliki kepercayaan diri yang terbaik diantara penghuni bumi lainnya.

Barangkali memang benar.

Kecewa

Kamu mau idealis ataupun realistis itu pilihanmu sendiri
Tapi untuk tidak berekspektasi berlebihan itu adalah pencegahan
Pencegahan dari yang namanya rasa kecewa
Kamu tau bahwa aku tidak pernah sakit hati denganmu, karena aku sakit hati dengan diriku sendiri
Seperti terlalu percaya kepadamu
Aku sakit hati ketika aku merasa bodoh
Yaaa begitulah
Aku tidak pernah menyalahkan orang lain
Aku lebih suka menyalahkanku sendiri
Aku tidak suka aku dibodohi dengan isi pikiran dan khayalan-khayalanku sendiri yang tidak seharusnya dipikirkan

Rendah Hati

Saya, manusia yang memiliki cita-cita ingin menjadi baik tanpa merasa sudah baik
Rendah hati kuncinya
Sekali lagi rendah hati, bukan rendah diri
Tau kan apa susahnya belajar rendah hati?
Berbuat baik tanpa berharap dapat feedback tuh emang susah
Tapi coba deh
“Tulus itu tak kenal harap”
Inget inget kalimat itu
Kalau berbuat baik terhadap sesama manusia, jangan pernah minta dibalas karena balasan Allah selalu yang terbaik
Inget inget.

Komitmen

Kamu tau tidak apa definisi komitmen?
Bagi saya komitmen itu perjanjian dengan diri sendiri
Bagi saya komitmen itu sebuah tanggung jawab dan dedikasi penuh
Ada orang bilang : “Loh Shandy loh keluar organisasi itu, apa namanya komitmen?”
“Iya” jawabku tegas

Saya memilih lalu keluar, lalu memilih salah satu organisasi karena takut setengah-setengah berada disitu
Karena takut tidak dapat memberikan apa yang seharusnya diberikan waktu dan konstribusi misalnya
Antara dua hal itu, lalu saya memilih salah satunya
Saya berdedikasi sesuai dengan apa yang saya bisa lakukan
Saya masih banyak kurangnya
Saya masih banyak malasnya
Saya masih banyak takutnya
Tapi selalu kalimat ini terngiang-ngiang di kepala saya : “Kalau kamu sama dirimu sendiri saja berkhianat, bagaimana dengan orang lain?”
Dikhianatin itu gak enak, jangan pernah pernah ngehianatin diri

Nah itu KOMITMEN
Bicara tentang komitmen mah gampang, yang susah itu ngejalaninnya
Biar totalitas gak setengah-setengah, perlu kemauan tingkat tinggi.

Rindu Merajai

Di bawah alismu hujan berteduh

Di mata merahmu senja berlabuh

Tak bersua bukan berarti diam membisu

Selalu ada aksara untuk kau

yang kuantarkan lewat rindu

Selamat menikmati

Kita rindu jarang terjadi

tetapi sekalinya datang, rasanya merajai

Rindu

/i/

adakah lain yang mendengar? puing-puing sanubari itu berjatuhan

di antara harap yang berderap, seluruhnya berujung sembilu. kalau memang benar, semoga kunjung sembuh oleh sang waktu. semoga, semoga begitu.

/ii/

Langit barat sesaat lagi ‘kan dilalap gelap. Bukan sesaat lagi, tapi memang sudah dilalap gelap karena ada tangisan yang jatuh dari langit.

Hawa dingin sudah merasuk ke dalam tulang. Semakin menambah deras tangisan yang keluar dari langit dan manusia.

Kusesapi rasa sunyi yang menyeruak dari sela-sela lantai papan. Membawa kembali senandung yang muncul akan masa lalu.

Lantunan memori perihal mu masih tertangkap jelas oleh akal. Memainkan nada yang kau ajarkan dahulu dan membuat ku berakhir bahagia.

Kala itu, aku dengan yakinnya mengira bahwa kita akan bersama selama-lamanya – tapi ternyata, aku semakin menyibukkan diri dengan duniaku dan tidak memerdulikan usiamu yang semakin menua.

/iii/

Rindu telah lembur. pada setiap kantung mata – ditabungnya bulir hujan seberapa pekat malam hampir sama warnanya kecoklatan seakan berbicara tentang sebuah cerita.

Ah. tepat hari ini sudah tiga puluh hari aku belum pulang.

pulang kepada pelukan mu. aku rindu.

Sebuah mimpi terus diputar dalam tidur meski film-film kesukaanmu tak pernah terdapat dalam mimpi yang abstrak itu. Sedangkan lagu yang sering kau nyanyikan selalu terdengar di kejauhan. sebab, sepi telah bertamu di rumah.

Tak ada yang tau. Doa pun selalu aku panjatkan. Apalagi nyataku. Dalam benak selalu ingin bertemu.

/iv/

Teringat nasehatmu mengiringi aku tumbuh

Lantas pada siapa kini aku mengadu?

Ayah, bolehkah sekali ini aku menangis

Runtuh dalam kerinduan

Ibu aku rindu

Pada belaianmu

Aku yang terlalu manja

Merengek saat tak dituruti

Aku sering bilang, aku menyayangimu

Tapi tak punya waktu untuk bertemu

Terlalu bersibuk, sampai aku lupa

Kau takkan selamanya ada

/v/

true love is not a strong, fiery, impetuous, passion. it is, on the contrary, an element calm and depp. love looks beond mere externals and gets attracted by qualities alone. it is wise and discriminating, and its devotion is real and abiding. –Ellen G. White-